Skip to main content
ilustrasi perjalanan Isra mi'raj

Isra Mi‘raj: Antara Keterbatasan Akal dan Kredibilitas Kesaksian Nabi

Isra Mi‘raj merupakan peristiwa fenomenal bagi umat yang meyakininya terjadi pada tanggal 27 Rajab. Dalam lintasan sejarah Islam, peristiwa ini menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Baitul Aqsa di Yerusalem, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai tingkat tertinggi, di mana beliau diperlihatkan realitas metafisis berupa surga dan neraka.

 

Beberapa riwayat hadis yang menjelaskan peristiwa Isra Mi‘raj tergolong hadis sahih, di antaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari. Sebagian besar hadis tersebut menggambarkan rangkaian perjalanan yang serupa, meskipun terdapat perbedaan pada beberapa rincian peristiwa. Perjalanan melalui darat dan langit dalam satu malam merupakan hal yang sulit diterima oleh nalar manusia, mengingat pada masa itu belum tersedia sarana transportasi darat yang memungkinkan perjalanan singkat dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsa yang berjarak sekitar 1.400 kilometer, serta belum terdapat pengalaman empiris yang menunjukkan bahwa manusia dapat mengakses jalur udara.

 

Dalam peristiwa Isra Mi‘raj, Nabi Muhammad SAW mengalami beberapa tahapan. Peristiwa ini diawali dengan pembelahan dada Nabi SAW untuk dibersihkan dengan air zamzam dan diisi dengan hikmah serta iman. Selanjutnya, Nabi SAW melakukan perjalanan dari Makkah ke Masjid al-Aqsa, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke langit. Di langit pertama Nabi SAW bertemu dengan Nabi Adam AS; di langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS; di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf AS; di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris AS; di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun AS; di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS; dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.

 

Di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan Baitul Ma‘mur, yaitu tempat ibadah para penghuni langit yang posisinya sejajar dengan Ka‘bah di bumi. Disebutkan bahwa setiap hari tujuh puluh ribu malaikat melaksanakan salat di tempat tersebut. Nabi SAW juga diperlihatkan Sidratul Muntaha, yaitu sebuah pohon yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah SWT. Pada tahap ini, Nabi Muhammad SAW menerima kewajiban salat sebanyak lima puluh kali sehari semalam dan beliau menerimanya.

 

Setelah menerima perintah tersebut, Nabi SAW bertemu dengan Nabi Musa AS. Nabi Musa AS menanyakan kewajiban yang telah ditetapkan, dan setelah mendengarnya, beliau menyarankan agar Nabi Muhammad SAW memohon keringanan, karena umat Nabi Muhammad SAW dikhawatirkan tidak mampu melaksanakannya. Setelah beberapa kali memohon keringanan, kewajiban salat akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, hingga Nabi Muhammad SAW merasa cukup dan tidak lagi meminta keringanan karena rasa malu yang beliau rasakan. Setelah penetapan kewajiban salat lima waktu, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah pada malam yang sama. Peristiwa Isra Mi‘raj kemudian disampaikan oleh Nabi SAW kepada masyarakat Quraisy. Sebagian dari mereka menolak dan meragukan kebenaran peristiwa tersebut. 

 

Bagi pendengar pada masa itu, kisah ini dipahami sebagai sesuatu yang sulit diterima, bahkan dianggap sebagai khayalan atau mimpi semata. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan dan sarana transportasi pada masa tersebut, sehingga perjalanan jauh dalam waktu singkat tanpa dukungan teknologi modern dianggap mustahil. Demikian pula, perjalanan ke alam langit serta kisah pertemuan dengan para nabi di setiap lapisan langit berada di luar pengalaman manusia pada umumnya.

 

Namun di sisi lain, peristiwa tersebut disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, seorang figur yang dalam catatan sejarah dan tradisi Islam dikenal memiliki integritas moral yang tinggi serta konsisten dalam kejujuran. Kredibilitas pribadi beliau tercermin dalam berbagai riwayat, termasuk peristiwa yang berkaitan dengan asbābun nuzūl Surah al-Lahab, ketika Nabi Muhammad SAW mengajukan pertanyaan kepada kaum Quraisy mengenai kemungkinan adanya ancaman musuh, dan mereka membenarkan pernyataan beliau. Peristiwa ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat Quraisy terhadap kejujuran Nabi Muhammad SAW. Kepribadian beliau dikenal mulia, bijaksana, serta menjauhkan diri dari perilaku tercela.

 

Dari perspektif sosial-ekonomi, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pedagang yang profesional dan amanah, sehingga memperoleh gelar al-Amīn (orang yang dapat dipercaya) dari masyarakat Makkah. Aktivitas perdagangan yang beliau jalankan menonjolkan prinsip kejujuran dan kepercayaan bersama. Kondisi sosial dan ekonomi beliau juga tercermin dalam pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah RA pada usia sekitar 25 tahun dengan mahar yang tidak sedikit menunjukkan adanya stabilitas ekonomi dalam konteks masyarakat Arab saat itu. Dari sisi genealogis, Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, salah satu bani terhormat dalam suku Quraisy. Bani Hasyim memiliki kedudukan sosial yang tinggi dan berpengaruh di Makkah, sehingga secara kultural Nabi Muhammad SAW berada dalam lingkungan yang memiliki kehormatan dan legitimasi sosial di tengah masyarakat Arab pra-Islam.

 

Dengan demikian, Isra Mi‘raj tidak harus dipahami sebagai peristiwa yang dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal, tetapi sebagai peristiwa yang kebenarannya bertumpu pada kejujuran dan integritas sosok yang mengalaminya. Akal berperan bukan untuk menolak peristiwa tersebut, melainkan untuk menilai apakah sumber kesaksiannya layak dipercaya. Dalam konteks ini, penting membedakan antara kesaksian kenabian dan berbagai klaim luar biasa yang kerap muncul di tengah masyarakat.

 

Dalam perkembangan zaman, tidak jarang muncul cerita-cerita yang mengklaim bahwa sebagian manusia di akhir zaman mampu melakukan perjalanan serupa, bahkan dengan narasi yang dilebih-lebihkan. Klaim semacam ini sering kali disampaikan tanpa dasar yang jelas, atau sekadar memanfaatkan kemiripan cerita untuk menarik perhatian, sehingga sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun moral. Hal tersebut tentu berbeda dengan kesaksian Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan dan keistimewaan yang secara konsisten disaksikan oleh masyarakat pada masanya. 

 

Nabi SAW dikenal memiliki kemampuan yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia biasa, seperti berkomunikasi dengan malaikat dan jin, serta menyampaikan gambaran tentang kehidupan akhirat. Selain itu, sejumlah informasi yang beliau sampaikan tentang fenomena alam yang pada masanya belum dapat dijelaskan baru dapat dipahami dan dibuktikan kebenarannya pada perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, seperti kondisi keterbatasan oksigen di ketinggian, keberadaan sungai di bawah laut, dan pertemuan dua laut dengan karakteristik yang berbeda.

 

Oleh karena itu, kredibilitas kesaksian Nabi Muhammad SAW tidak berdiri pada klaim yang berdiri sendiri, melainkan didukung oleh rekam jejak kenabian, integritas pribadi, serta konsistensi pengalaman luar biasa yang diakui oleh masyarakat sezamannya. Atas dasar inilah, umat Islam memiliki alasan yang kuat untuk menerima Isra Mi‘raj sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi, meskipun realitasnya melampaui kemampuan akal manusia dalam menjangkaunya secara penuh.