Skip to main content
munggahan

Tradisi Penyambutan Ramadhan

Ramadhan sebagai sayyid al-syuhūr merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Selain itu, Ramadhan juga mengandung Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Secara eksplisit, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan selama bulan Ramadhan, mengingat keutamaan dan kemuliaan yang melekat pada bulan tersebut.

 

Dari masa ke masa, penyambutan kedatangan bulan Ramadhan telah dilakukan oleh umat Islam di berbagai negara dengan beragam bentuk persiapan. Pada masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat—sebagai generasi terbaik—telah mencontohkan sejumlah persiapan spiritual dan sosial, seperti menyucikan hati, meningkatkan kualitas ibadah, mempererat silaturahmi, serta menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah. Tradisi persiapan menyambut Ramadhan ini terus berlanjut hingga masa kini, meskipun bentuk dan caranya berbeda-beda di setiap negara sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masing-masing. Di Indonesia, misalnya, terdapat beragam tradisi lokal dalam menyambut Ramadhan, seperti munggahan atau pungguhan, megengan, padusan, nyorog, dan tradisi lainnya yang berkembang di berbagai wilayah.

 

terdapat pandangan yang berbeda terkait pelaksanaan tradisi-tradisi tersebut; sebagian pihak menyetujuinya, sementara sebagian lainnya menolaknya. Namun, jika ditinjau dari tujuan dasarnya, tradisi-tradisi tersebut pada hakikatnya memiliki maksud yang sama, yaitu mendorong umat untuk berbuat kebaikan, mempererat silaturahmi, saling meinta maaf, mengenang serta mendoakan orang tua dan para sesepuh yang telah wafat, serta melaksanakan doa bersama sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut bulan Ramadhan.

 

Dari pihak yang tidak menyetujui penyambutan Ramadhan yang dipadukan dengan adat, praktik tersebut dipandang tidak memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, mereka lebih memilih mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah dan kegiatan keagamaan dibandingkan hari-hari biasa, seperti melaksanakan salat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir, tanpa mengkhususkan atau mengaitkannya dengan malam tertentu di bulan Sya‘ban.

 

Di sisi lain, kelompok yang mendukung penyambutan Ramadhan melalui tradisi adat memandang praktik tersebut sebagai bagian dari ekspresi budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, selama tidak mengandung unsur kemusyrikan, keyakinan yang menyimpang, maupun pelanggaran syariat. Tradisi-tradisi tersebut dipahami sebagai sarana untuk menanamkan nilai kebersamaan, memperkuat ikatan sosial, serta mengingatkan masyarakat akan pentingnya persiapan lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi-tradisi penyambutan Ramadhan yang berbagai macam cara, ada dengan merenovasi rumah, memasang interior yang menjadi ciri khas Ramadhan, ziarah kubur, do’a dan kumpul Bersama, saling antar makanan dan lainnya merupakan tradisi yang umum dilakukakan terutama di Indonesia.

 

Ada beberapa tradisi penyambutan bulan sya’ban yang masih dalam perdebatan, karena dirasa agak menyimpang baik secara pancaindra maupun subtansi dari kegiatan tersebut, sebut saja mandi di suatu sumber mata air, secara hukum memang umat Islam harus membersihkan diri sebelum menyambut bulan Ramadhan, akan tetapi mengkhususkan mandi disuatu tempat merupakan adat yang memberatkan diri, tradisi ini biasa dilakukan oleh raja-raja di jaman dahulu yang mengharuskan mandi langsung di sumber mata air. Tradisi selanjutnya membuat kue tertentu yang dilemparkan ke atap, merupakan tradisi yang dianggap aneh, karena secara dasar membuang makanan.

 

Perbedaan pandangan ini (yang tidak diperdebatkan) pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan yang telah berlangsung sejak masa awal Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam, perbedaan semacam ini sering kali dikaitkan dengan konsep ‘urf (adat kebiasaan) bid’ah khasanah, di mana para ulama memiliki pendekatan yang beragam dalam menilai praktik-praktik baru yang tidak secara eksplisit dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat dan justru mengandung kemaslahatan, sebagian ulama memandangnya sebagai sesuatu yang dapat diterima.

 

Dengan demikian, perbedaan sikap terhadap tradisi penyambutan Ramadhan seharusnya disikapi secara proporsional dan penuh toleransi. Fokus utama umat Islam hendaknya tetap diarahkan pada substansi ibadah dan peningkatan ketakwaan, bukan pada perbedaan bentuk atau metode persiapan yang bersifat cabang. Ramadhan pada akhirnya merupakan momentum bersama untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan sosial antarsesama manusia.

 

 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.